Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PBB: 17 Juta Orang Terdampak Gempa Besar Myanmar

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebutkan wilayah terdampak paling parah hingga kini masih lumpuh tanpa aliran listrik dan air bersih.
Petugas penyelamat bekerja di lokasi bangunan yang runtuh setelah gempa bumi dahsyat melanda Myanmar bagian tengah pada hari Jumat (28/3/2025)-REUTERS/Athit Perawongmetha
Petugas penyelamat bekerja di lokasi bangunan yang runtuh setelah gempa bumi dahsyat melanda Myanmar bagian tengah pada hari Jumat (28/3/2025)-REUTERS/Athit Perawongmetha

Bisnis.com, JAKARTA - Lebih dari 3.000 orang tewas dan sekitar 17 juta orang terdampak akibat gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar, menurut laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Melansir Bloomberg, Jumat (4/4/2025), Laporan yang dirilis Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebutkan wilayah terdampak paling parah hingga kini masih lumpuh tanpa aliran listrik dan air bersih. Akses telekomunikasi dan internet terputus, sementara jalur transportasi di berbagai daerah turut terganggu,

PBB memperingatkan bahwa angka korban jiwa kemungkinan belum mencerminkan kondisi sesungguhnya akibat gangguan komunikasi yang meluas. Junta militer Myanmar menyebutkan jumlah korban tewas mencapai 3.145 orang, dengan ribuan bangunan hancur atau rusak berat.

“Korban jiwa begitu besar dan terus bertambah. Dalam masa genting ini, rakyat Myanmar membutuhkan uluran tangan komunitas internasional,” tulis OCHA dalam pernyataan resmi.

Sebagai tanggapan, PBB telah mengirimkan tim kemanusiaan ke lapangan untuk mempercepat distribusi bantuan.

Militer Myanmar menyatakan gencatan senjata sepihak hingga 22 April, dengan alasan mempercepat upaya bantuan dan rekonstruksi. Gencatan ini berpotensi menjadi jeda langka dalam konflik bersenjata yang kembali berkobar sejak kudeta militer empat tahun silam.

Namun, bahkan sebelum dampak penuh gempa dapat dipetakan, kelompok pemberontak pro-demokrasi melaporkan adanya serangan udara baru oleh militer di kawasan dekat pusat gempa.

“Bencana ini membuka mata dunia akan rapuhnya kondisi masyarakat Myanmar secara struktural dan sosial,” ujar Sekjen PBB António Guterres dalam pernyataan terpisah.

Risiko Penyakit

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan risiko wabah kolera dan penyakit lainnya di wilayah yang paling terdampak, seperti Mandalay, Sagaing, dan ibu kota Naypyitaw. WHO juga tengah menyiapkan bantuan senilai US$1 juta, termasuk kantong jenazah.

"Kolera tetap menjadi perhatian utama bagi kita semua," kata Elena Vuolo, wakil kepala kantor WHO di Myanmar, seraya mengingatkan bahwa Mandalay sempat mengalami wabah kolera tahun lalu.

Dia menambahkan risiko ini diperparah dengan rusaknya sekitar separuh dari fasilitas kesehatan di daerah terdampak, termasuk rumah sakit yang hancur akibat gempa di Mandalay dan Naypyitaw.

Banyak warga masih bertahan di luar rumah dalam suhu 38°C karena mengkhawatirkan datangnya gempa susulan.

Sementara itu, sejumlah rumah sakit juga mendirikan fasilitas darurat di luar ruangan, ujar Vuolo. Dia mengatakan penyakit kulit, malaria, dan demam berdarah bisa menjadi ancaman dalam krisis berkepanjangan seperti yang terjadi di Myanmar.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper