Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah China memperkuat upaya pemantauan lingkungan ruang angkasa orbit rendah, sekaligus menyediakan layanan untuk pengukuran lingkungan ruang angkasa lewat peluncuran satelit baru.
Berdasarkan keterangan resmi pemerintah setempat dikutip dari gov.cn pada Kamis (3/4/2025), China sukses mengirim satelit baru ke luar angkasa dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan di Provinsi Shanxi, China bagian utara. Satelit itu berhasil memasuki orbit yang telah ditentukan sebelumnya.
“Satelit, Tianping-3A 02, diluncurkan pada pukul 10:12 pagi [waktu Beijing] dengan menggunakan roket pembawa Long March-6 dan berhasil memasuki orbit yang telah ditentukan sebelumnya,” bunyi keterangan resmi pemerintah setempat.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa satelit tersebut akan digunakan untuk kalibrasi peralatan radar berbasis darat dan pengukuran penampang radar (RCS).
Satelit itu juga akan mendukung eksperimen pencitraan untuk peralatan optik berbasis darat dan pengujian pemantauan lingkungan ruang angkasa orbit rendah, sekaligus menyediakan layanan untuk pengukuran lingkungan ruang angkasa atmosfer dan koreksi model prediksi orbital.
Peluncuran ini menandai misi penerbangan ke-568 dari rangkaian roket pembawa Long March.
Baca Juga
Kebijakan Tarif Impor AS
Peluncuran satelit baru China tersebut bertepatan dengan langkah Amerika Serikat yang melakukan kebijakan bea impor baru, termasuk produk-produk barang asal China.
Dilansir dari gedung Putih, Amerika membuat kebijakan perdagangan baru untuk membatasi serangan produk asal China yang membanjiri pasar negara tersebut.
Dalam Perintah Eksekutif yang dirilis pada Rabu (2/4/2025), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghapus perlakuan bebas bea de minimis untuk impor bernilai rendah dari China.
Kebijakan itu juga menjadi langkah penting dalam melawan keadaan darurat kesehatan yang sedang berlangsung yang disebabkan oleh aliran ilegal opioid sintetis ke AS.
“Menyusul pemberitahuan Menteri Perdagangan bahwa sistem yang memadai telah diterapkan untuk mengumpulkan pendapatan tarif, Presiden Trump mengakhiri perlakuan de minimis bebas bea untuk barang-barang yang dilindungi dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Hong Kong mulai tanggal 2 Mei 2025 pukul 12:01 dini hari EDT,” bunyi keterangan resmi Gedung Putih dikutip Kamis (3/4/2025).
Dalam keterangan tersebut, seluruh barang impor yang dikirim melalui sarana selain jaringan pos internasional yang bernilai sama dengan atau di bawah US$800 dan yang seharusnya memenuhi syarat untuk pengecualian de minimis, akan dikenakan bea yang berlaku dan harus dibayar sesuai dengan prosedur masuk dan pembayaran yang berlaku.
De minimis merupakan kebijakan batas nilai minimal barang impor dibebaskan dari bea masuk dan/atau pajak, terutama untuk barang kiriman dengan nilai rendah.
Keterangan resmi gedung Putih itu juga menyatakan semua kiriman pos yang berisi barang yang dikirim melalui jaringan pos internasional yang nilainya mencapai atau di bawah US$800 dan yang seharusnya memenuhi syarat untuk pengecualian de minimis dikenakan tarif bea sebesar 30% dari nilainya atau US$25 per kiriman (naik menjadi US$50 per kiriman setelah 1 Juni 2025).
“Tarif ini menggantikan bea lainnya, termasuk yang dikenakan oleh perintah sebelumnya,” tlus Perintah Ekkutif yang ditandatangani Presiden Donald J. Trump.
AS juga memerintahkan semua operator yang mengangkut barang-barang pos harus melaporkan rincian pengiriman ke Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS atau US Customs and Border Protection (CBP).
CBP dapat meminta entri formal untuk paket pos apa pun, alih-alih tugas yang ditentukan. Sementara itu, Menteri Perdagangan akan menyerahkan laporan dalam waktu 90 hari untuk menilai dampak perintah tersebut dan mempertimbangkan apakah akan memperluas aturan ini ke paket dari Makau.
Presiden Trump tengah menyasar praktik pengiriman yang menipu oleh pengirim barang dari China, yang banyak di antaranya menyembunyikan zat-zat terlarang, termasuk opioid sintetis, dalam kemasan bernilai rendah untuk mengeksploitasi pengecualian de minimis.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa CBP memproses rata-rata lebih dari 4 juta pengiriman de minimis ke AS setiap hari.
AS juga menyebut Partai Komunis China yang memegang kendali penuh atas pemerintahan dan perusahaan-perusahaan China, telah mensubsidi dan memberi insentif kepada perusahaan-perusahaan kimia China untuk mengekspor fentanil dan bahan kimia prekursor terkait yang digunakan untuk memproduksi opioid sintetis yang dijual secara ilegal di Amerika Serikat.
“Banyak perusahaan kimia berbasis di RRC menyembunyikan zat terlarang dalam arus perdagangan yang sah, termasuk melalui faktur palsu, ongkos kirim palsu, dan kemasan yang menipu,” bunyi laporan tersebut.