Bisnis.com, JAKARTA - Thailand berjanji untuk mempersempit surplus perdagangannya dengan Amerika Serikat (AS) dengan mengimpor lebih banyak energi dan produk makanan.
Melansir Bloomberg, Rabu (2/4/2025), Vuttikrai Leewiraphan, sekretaris tetap di Kementerian Perdagangan menyebut, pemerintahan Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra telah menyiapkan strategi untuk mengatasi tarif timbal balik yang akan diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada Rabu waktu setempat.
Dia mengatakan, Thailand akan mengadopsi "pendekatan holistik" untuk negosiasi perdagangan guna meminimalkan dampak pada ekonominya.
Surplus perdagangan Thailand dengan AS mencapai US$45 miliar tahun lalu, menurut Kantor Perwakilan Dagang AS.
Tidak seperti Vietnam dan India, yang telah memangkas pajak impor atas produk AS untuk mempersempit kesenjangan perdagangan mereka, pemerintahan Paetongtarn telah menunggu untuk melihat pengumuman AS terlebih dahulu dan menunggu negosiasi.
AS merupakan pasar ekspor terbesar Thailand dengan barang elektronik, mesin, dan produk pertanian berada di urutan teratas. Setelah Trump menaikkan tarif untuk produk China, kelompok bisnis Thailand telah memperingatkan bahwa ekonomi terbesar kedua di kawasan itu juga berisiko menerima masuknya barang murah dari negara tetangganya di Asia.
Baca Juga
Para pejabat setempat memperkirakan dampak terhadap ekspor negara Asia Tenggara itu sekitar US$8 miliar jika pemerintahan Trump menaikkan tarif sebesar 11%.
Pertimbangan Trump atas rencananya untuk mengenakan tarif timbal balik semakin mendekati titik akhir, dengan timnya dikatakan masih menyelesaikan ukuran dan cakupan pungutan baru yang dijadwalkan akan diumumkannya pada Rabu sore.
Namun, menurut Nomura Holdings Inc., Thailand yang bergantung pada perdagangan akan menjadi pihak paling dirugikan di kawasan tersebut. Hal ini mengingat paparannya yang besar terhadap dua sektor yang paling rentan terhadap tarif timbal balik: pertanian dan transportasi.
Negara tersebut memiliki tarif efektif rata-rata tertimbang sebesar 6,2% atas ekspor AS ke Thailand, dibandingkan dengan tarif sebesar 0,9% atas ekspor Thailand ke AS, menurut estimasi Nomura.
Perusahaan makanan dan energi Thailand berencana untuk meningkatkan investasi AS, terutama di "negara bagian merah," kata Vuttikrai yang merujuk pada negara bagian yang dikuasai Republik.
Vuttikrai menambahkan, investasi oleh perusahaan Thailand di AS berjumlah sekitar US$17 miliar, membantu menciptakan sekitar 11.000 pekerjaan.
Selain mengimpor lebih banyak dari AS, dia juga mengatakan pemerintah Thailand telah menyiapkan proposal yang mencakup pemotongan tarif impor AS untuk beberapa produk dan menawarkan tindakan non-tarif yang tidak ditentukan.
Keputusan AS untuk menaikkan tarif baja dan aluminium telah memukul pengiriman Thailand, dengan pesanan baru mengering, kata Vuttikrai. Di masa mendatang, Thailand akan mendiversifikasi pasar ekspornya untuk mengimbangi dampak tarif AS, katanya.